Patofisiologi Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktif Pada Anak

Posted on 28 December 2011 by dokterai

Patofisiologi ADHD atau di indonesia dikenal dengan GPPH (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktif) memang tak jelas. Ada sejumlah teori yang membicarakan patofisiologi ADHD. Penelitian pada anak ADHD telah menunjukkan ada penurunan volume korteks prefrontal sebelah kiri, Penemuan ini menunjukkan bahwa gejala ADHD inatensi, hiperaktivitas dan impulsivitas menggambarkan adanya disfungsi lobus frontalis, tetapi area lain di otak khususnya cerebellum juga terkena.

Penelitian “neuroimaging” pada anak ADHD tak selalu memberikan hasil yang konsisten, pada tahun 2008 hasilnya neuroimaging hanya digunakan untuk penelitian, bukan untuk membuat diagnosa. Hasil penelitian “neuroimaging”, neuropsikologi genetik dan neurokimiawi mendapatkan ada 4 area frontostriatal yang memainkan peran patofsiologi ADHD yakni : korteks prefrontal lateral, korteks cingulate dorsoanterior, kaudatus dan putamen. Pada sebuah penelitian anak ADHD ada kelambatan perkembangan struktur otak tertentu rata-rata pada usia 3 tahun, di mana gejala ADHD terjadi pada usia sekolah dasar.

Kelambatan perkembangan terutama pada lobus temporal dan korteks frontalis yang dipercaya bertanggung jawab pada kemampuan mengontrol dan memusat-kan proses berpikirnya. Sebaliknya, korteks motorik pada anak hiperaktif terlihat berkembang lebih cepat matang daripada anak normal, yang mengakibatkan adanya perkembangan yang lebih lambat dalam mengontrol tingkah lakunya, namun ternyata lebih cepat dalam perkembangan motorik, sehingga tercipta gejala tak bisa diam, yang khas pada anak ADHD. Hal ini menjadi alasan bahwa pengobatan stimulansia akan mempengaruhi faktor pertumbuhan dari susunan saraf pusat

Pada pemeriksaan laboratorium telah didapatkan bahwa adanya 7 repeat allele DRD4 gene (Dopamine 04 receptor gene) di mana merupakan 30% risiko genetik untuk anak ADHD di mana ada penipisan korteks sebelah kanan otak, daerah otak ini penebalannya jadi normal sesudah usia 10 tahun bersamaan dengan kesembuhan klinis gejala ADHD

Dari aspek patofisiologik, ADHD dianggap adanya disregulasi dari neurotransmitter dopamine dan norepinephrine akibat gangguan metabolisme catecholamine di cortex cerebral. Neuron yang menghasilkan dopamine dan norepinephrine berasal dari mesenphalon. Nucleus sistem dopaminergik adalah substansia nigra dan tigmentum anterior dan nucleus sistem norepinephrine adalah locus ceroleus

Barkley 2005 menyatakan bahwa penyebab spesifik dari ADHD tidak diketahui.  Ada banyak faktor yang menyokong timbulnya gejala ADHD, termasuk faktor genetik, diet, lingkungan fisik dan sosial.

Taylor, 1996 menyatakan bahwa gejala ADHD murni dihubungkan dengan masalah “neurodevelopmental”, sedangkan gangguan tingkah laku banyak disebabkan karena masalah sosial dan keluarga.

Faraone, 1998 mendapatkan dari hasil penelitiannya bahwa gangguan ADHD bersama gangguan tingah laku disebut gangguan tingkah laku hiperkinetik terutama disebabkan oleh faktor genetik.

Dari penelitian anak kembar dengan ADHD memang didapatkan 75% dari kasus. kasus ADHD disebabkan karena faktor genetik. Meskipun faktor genetik memegang peranan penting tetapi tak ada gen khusus yang menyokong timbulnya gejala ADHD Mayoritas kasus-kasus ADHD timbul dari kombinasi macam-macam gen yang akan mempengaruhi dopamine transporter. Macam-macam gene ini termasuk:

-              dopamine transporter

-              dopamine receptor D2/D3

-              dopamine beta hydroxylase monoamine oxidase A

-              catechol methyltransferase

-              SLC6A4

-              5HT2A

-              5HT1B

-              OBH Taq I

-              10 repeat allele DAT1 gene

-              7 repeat allele DRD4 gene

Dari hasil penelitian di Sonthampton University di United Kongdom, tahun 2007 didapatkan ada hubungan makanan anak dengan zat pewarna buatan (artificial food colors), sodium benzoate dan hiperaktivitas.

Dari penelitian anak kembar dengan ADHD didapatkan 9-20% dari ADHD timbulnya disebabkan karena faktor lingkungan fisik (nongenetik). Faktor lingkungan ini berupa:

-  ibu selama hamil mengkonsumsi alkohol dan rokok. Saat ibu hamil mengisap rokok akan terjadi hypoxia pada fetus.

-  komplikasi selama kehamilan dan persalinan, termasuk lahir prematur.

-  trauma kapitis saat masa bayi/anak kecil.

-   infeksi selama kehamilan, persalinan dan masa kecil. Termasuk infeksi macam-macam virus (campak, varicella, rubella, enterovirus) dan infeksi bakteri streptococcus.

Barkley R menyatakan tak ada bukti nyata bahwa faktor lingkungan sosial sendiri dapat menyebabkan gejala ADHD. Para peneliti lain percaya bahwa hubungan yang buruk orang tua/pengasuh dengan anak ADHD akan berdampak buruk terhadap konsentrasi dan kemampuan mengontrol diri dari anak/remaja. Didapatkan gejala mirip ADHD pada anak yang mengalami penganiayaan fisik dan emosional, juga pada anak yang mengalami gangguan stress trauma (Posttraumatic Stress Disorder).

Adanya stresor kehidupan dialami keluarga ADHD seperti kemiskinan, orang tua tak bekerja. keluarga banyak, depresi ibu, ayah peminum alkohol dan berbuat kriminal, ada tingkah laku antisosial pada saiah satu orang tua akan memudahkan timbulnya qangguan tingkah disruptif pada anakADHD, konflik orang tua yang menyebabkan perceraian pada keluarga ADHD, disertai timbulnya depresi kronis pada salah satu orang tua (single parent) dan anak sesudah terjadinya pemisahan orang tua menyebabkan anak/remaja ADHD mempunyai tingkah laku disruptif dan mudah gelisah yang akan berakibat anak/remaja bertingkah laku antisosial.

Webster Straton et al, 1995 menyatakan bahwa ibu yang depresi dan mudah marah akan menyebabkan anak/remaja menerima disiplin tidak konsisten, anak banyak menerima perintah yang keras dan penuh kritik sehingga menambah tingkah laku anak/remaja tak patuh dan menyimpang. Ibu depresi sering salah menginterpretasi tingkah laku anaknya sebagai anak yang tak bisa menyesuaikan diri dengan situasi. Ibu yang depresi dan mudah gelisah akan mengalami kehilangan teman dan dukungannya, akibatnya akan melakukan disiplin yang tak efektif dan mudah marah pada anak serta mengatasi masalah anak dengan cara buruk.

Demikianlah beberapa penelusuran tentang patofisiologi ADHD atau yang dimasyarakat awam hanya dikenal dengan anak hiperaktif. semoga bermanfaat.

1 Comments For This Post

  1. Luis Says:

    da yg lbh parah lg umur 5 taon udah bs nneget mulai maen game online ampe yg g tu" an…

Leave a Reply

Iklan

eXTReMe Tracker